
![]()
@Glaniz
Skin by Ayien Cute favicon byBabydoll Blog owner: Glaniz! ![]()
| Pilihan
Minggu, 21 Desember 2014 | 01.35 | 0 comments
Salah satu problema orang-orang yang jatuh cinta diam-diam
adalah pilihan.
Ya, pilihan.
Entah seberapa kuat cinta itu, entah seberapa dalam kalian
menyembunyikannya, pada akhirnya kalian akan dihadapkan pada sebuah dinding
besar bernama pilihan.
Hanya ada dua kata di sana: menyerah atau maju.
Sama seperti jenis orang yang jatuh cinta diam-diam, ada dua:
teman dekat atau orang asing.
Di sini jika kalian adalah orang asing, maka kalian akan
lebih beruntung.
Karena golongan orang asing biasanya tidak terlalu banyak
menyimpan harapan, maka mereka tidak akan jatuh terlalu dalam.
Jika memilih menyerah, tidak akan terlalu sulit untuk
melupakannya. Jika memilih maju, mereka kembali memiliki dua kemungkinan.
Diacuhkan atau diabaikan. Jika diabaikan pun tidak akan sesulit yang
dibayangkan untuk lupa.
Golongan teman dekatlah yang paling sengsara. Orang-orang
seperti akulah yang paling nista.
Karena aku dan kamu terlalu banyak membuang waktu bersama,
terlalu banyak menghabiskan tawa bersama, terlalu banyak menyimpan harapan.
Kita seperti dua ikan yang diletakkan dalam dua akuarium
berbeda yang bersebelahan.
Seperti dua bunga yang ditanam di dua kebun berbeda yang dibatasi pagar tinggi.
Sangat dekat, tapi juga begitu jauh.
Kita sama-sama bisa saling mendengar, bisa saling melihat,
tapi kita tidak punya kuasa untuk saling mendekat.
Memang bukan tidak mungkin, tapi rasanya sulit sekali.
Lalu pada akhirnya kita akan bermuara pada gelisah yang
membawa tanya serta hasrat untuk menyerah.
Sialannya, saat tekad untuk berhenti hampir sempurna bulat,
kenangan-kenangan akan kebersamaan itu kembali.
Saat-saat kita menikmati cahaya matahari bersama, saat-saat
kita saling menciprat air, saat-saat dimana hanya kita berdua.
Semua klise tersebut akan menghanyutkan pikiran kita untuk menyerah.
Membawa ombak besar untuk kembali.
Tapi yang terburuk dari jatuh cinta diam-diam adalah harapan.
Aku hanya bisa berharap, tanpa tahu apa yang kamu pikirkan. Hanya berdasar pada
mozaik-mozaik candaan kita, mengira-ngira apa yang kamu rasakan, menduga-duga
debar jantungmu, merangkai-rangkai skenario terindah atas kita. Bermimpi.
Kini keinginan terbesarku adalah untuk berenang bersama kamu,
untuk mekar bersama kamu, untuk dapat menyentuhmu.
Namun kembali pada realita, aku butuh setidaknya tangan yang
bermurah hati menciduk dan memindahkanku ke akuarium yang sama denganmu. Atau
tangan yang rela berkotor-kotor untuk menggali akarku dan menanamnya kembali di
sebelahmu.
Sebelum itu, aku bahkan tidak tahu apa kamu sudi berbagi riak
denganku. Atau apa kamu sudi bertaut akar denganku.
Kalau sudah begitu aku benar-benar harus memilih. Dan pilihan
terbaik diantara semua ini adalah menyerah.
Label: Penggalauan, Renungan |