Glaniz's
13 yo. young, but not forever. act,write,jump,sing,dance,and punch. addicted to camera,fashion,and Greyson Chance.
@Glaniz



Skin by
Ayien
Cute favicon byBabydoll
Blog owner: Glaniz!

Ramadhan
Kamis, 11 Juli 2013 | 01.06 | 0 comments
Mentari menepikan dirinya ke barat, menciptakan semburat kemerahan yang menimpa wajahku. Senja. Aku menghirup napas dalam-dalambiarkanlah, selagi oksigen masih gratissembari menikmati indahnya senja. Aku selalu suka senja. Terlebih hari ini. Tak lama azan Maghrib berkumandang, aku kembali ke dalam rumah dan mengeraskan volume televisi. Orang-orang di MUI sedang melakukan sidang isbat. Ramai menentukan kapan jatuhnya hari pertama Ramadhan dengan melihat hilal.

Aku terpekur, Ramadhan lagi. Bukan aku tidak suka bulan suci ini, malah aku selalu menantikan kehadirannya. Suasana sore saat orang-orang ngabuburit, berjalan santai sambil ngobrol ngalor-ngidul tanpa gosip, kata-kata yang lebih terjaga, juga ketentraman yang menyeruak. Tapi Ramadhan kali ini membuatku memaksa mengingat sesuatu. Satu tahun lalu.

Cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku, berharap dengan cara begitu aku bisa mengusir kenangan yang melintas. Tapi gagal, kenangan itu, senyum itu, sosok itu, kembali hadir. Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah, banyak sekali berkah yang keluarga kami dapat, khususnya aku. Terlebih saat aku bertemu kamu lagi.

Semua memang awalnya baik-baik saja, senang-senang saja. Sampai akhirnya kamu pergi. Sakit. Dan sekarang, aku harus dihadapan pada kenyataan yang tidak mengenakkan. Sudah satu tahun, dan aku belum benar-benar bisa melupakanmu. Memang benar ada orang lain, memang benar banyak yang memasuki hidupku dan memang benar ada dia. Tapi rasanya kamu belum bisa benar-benar lenyap dari otakku. Masih leluasa berlarian dalam khayalku. Dan seringkali membuat otak dan hatiku bergumul. Salah, memang salah. Harusnya tidak begini. Kini kamu dan dia hadir membentuk suatu euforia semu yang aku sendiri tak bisa menjelaskannya.

"Lupakan! Apa yang kamu lihat darinya? Kalau kamu memang hanya mencari kenyamanan, bukankah dia lebih bisa menjagamu? membimbingmu?" jerit otakku.
"Tapi cuma dia yang bisa begitu, memberi waktunya seutuhnya untukku. Sedangkan dia seringkali tenggelam dalam urusannya sendiri." bantah hatiku.

Ah, payah. Harusnya bulan ini dimanfaatkan untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik, beramal sebanyak-banyaknya. Tapi kenapa aku malah mengalami pergelutan dalam benakku? Baiklah, aku seringkali jatuh karena mendengarkan hatiku dan tak memperdulikan logika. Kali ini aku membiarkan otakku yang menguasai pergulatan. Jadi, bersoraklah wahai otak! Okay , kalau begitu aku harus tetap menjalaninya.

"Tapi apa perlu? Buka bersama sekaligus reuni seperti dulu? Ah, cuma mengundang pahit saja." gumam otak yang meras sudah menang.
"Tapi tunggu, ini ajang silaturahmi. Minta maaf lah sana, kalau-kalau kamu punya salah sama teman-teman lamamu." hati menentang, merasa menemukan celah untuk berontak.
"Tapi tetap saja aku masih belum siap jika harus bertemu lagi dengannya!" sergah otak.

Begitulah. Hari ini mereka terus bertentangan, bersilang pendapat. Tanpa ada hasil dapat diambil. Menggantung.

Label: , , ,



Old things | New things