Glaniz's
13 yo. young, but not forever. act,write,jump,sing,dance,and punch. addicted to camera,fashion,and Greyson Chance.
@Glaniz



Skin by
Ayien
Cute favicon byBabydoll
Blog owner: Glaniz!

Nostalgia
Kamis, 11 Juli 2013 | 00.01 | 0 comments


Pukul 14.37. Sudah empat jam lamanya aku menunggu, menari bersama teriknya matahari, bergumul bersama pekatnya debu. Dengan hati-hati mataku terus mengikuti sosok kecil itu. Menanti-nanti saat yang tepat. Bingo! Inilah, waktuku. Berjinjit-jinjit aku menghampirinya, berusaha tidak mengejutkannya dan menciptakan kegaduhan. Dengan sigap aku segera membungkam mulutnya dengan sarung tangan berlumur chloroform.
*****
Bocah empat tahun itu terbangun. Ia sedikit terkejut saat menyadari kedua kaki-tangannya terikat dan mulutnya tersumpal. Aku mendekatinya dengan seringai di wajahku dan aku bisa menangkap perasaan takut yang menjalarinya. Sekali hentakan saja aku bisa menangkap rambut panjangnya yang kemudian aku ikatkan pada kayu penyangga atap yang jaraknya tak begitu jauh dari lantai, kini posisi gadis lucu itu menggantung dan terayun-ayun.

Kulit wajahnya mulai memerah karena tak kuasa menahan sakit yang berpangkal di kepalanya. Dengan sebilah pisau di tangan, aku menelusuri wajah mungi itu. Membuat sedikit goresan-goresan dalam. Ah, salah. Tidak sedikit, ya katakanlah cukup banyak di sana-sini. Luka yang tadi ku torehkan semakin terasa perih karena banjir oleh air matanya. Belum puas, aku melanjutkan dengan mendaratkan sebatang besi panjang di perutnya secara bertubi-tubi, mengguyurkan air panas ke sekujur tubuhnya, memotong daun telinganya, lalu mengigit jari kaki nya yang mungil sampai putus.

Aku tidak peduli dia anak siapa. Mau bapaknya dokter, pejabat, atau tukang andong pun aku tak peduli. Bukan uang yang jadi tujuanku. Ada kenikmatan tersendiri saat menyayat dan mencambuki korbanku. Rasa puas dan bahagia yang menjalari seluruh tubuh, menutupi hati dan akal sehatku. Mungkin inilah yang dirasakan pembunuh adikku dulu.

*****
Ah, senang nya mengingat masa lalu. Aku baru saja terbangun dari tidur siangkuah salahaku baru saja membuka mataku setelah terpejam sejenak. Kali ini aku bisa merasakan lagi panas yang merambat ke seluruh bagian tubuhku, makin lama makin menyakitkan. Bukan, ini bukan akibat menenggak miras oplosan. Tapi saat ini aku benar-benar sedang dibakar. Baru saja beberapa saat yang lalu aku selesai ditusuki oleh trisula yang amat tajam, berulang-ulang. Sampai tak bisa ku hitung lagi jumlahnya. Setelah ini mungkin aku akan dicambuk, dimasukkan ke dalam mulut hiu, dikuliti, disetrika, atau apalah. Terserah. Aku sudah biasa. Berulang kali setiap harinya tanpa ada akhirnya. Ah, sepertinya ini memang tempatku, di neraka.

Label: ,



Old things | New things