
![]()
@Glaniz
Skin by Ayien Cute favicon byBabydoll Blog owner: Glaniz! ![]()
| Kumandang Adzan Terakhir (eps. 1)
Sabtu, 08 Desember 2012 | 01.39 | 0 comments
Suara adzan sayup-sayup terdengar, membentur bilik-bilik bambu, beriringan dengan suara percikan air dari anak-anak sungai—menciptakan suatu simfoni indah yang terdengar seperti lagu kerinduan. Kerinduan bertemu dengan Sang Khaliq. Suara itu terdengar syahdu, walau terselip secuil keraguan. Alasannya hanya satu mengapa si Muadzin sangat berhati-hati. Ia takut ketahuan Belanda. Pasukan Belanda yang dipimpin Deman Kyler memang melarang dikumandangkannya suara adzan di tanah jajahannya. Tak peduli 99% penduduknya adalah orang muslim. Berani melanggar, peluru panas dari bedil mereka siap bersarang di tubuhmu. Karena aturan tersebutlah, ada empat muadzin yang mengumandangkan seruan untuk sholat di Desa Salawangi secara bersamaan di beberapa sudut desa. Tentu saja dengan suara tertahan. Seorang pemuda dengan wajah tenang sedang bersandar di salah satu bilik bambu yang berjarak hanya lima meter dari saung tempat si muadzin sedang bertugas. Dari tempatnya, suara itu terdengar jelas. Pandai sekali Mamat—Si Pengumandang Adzan—melafalkan ayat-ayat Allah tersebut. Adzan sudah selesai beberapa menit yang lalu, namun pemuda tersebut masih saja menyenderkan tubuhnya santai, menikmati indahnya langit sore tanah sunda ditambah lagi dengan sejuknya angin yang membelai anak-anak rambut dengan lembut. Sempurna menciptakan kantuk. Lelaki dengan rambut hitam mengkilap itu menguap sekali, meregangkan tubuhnya, lalu tersenyum tipis. Beranjak menyusul rombongan kecil yang sedang berjalan menuju anak sungai, hendak mengambil air wudhu. “Min! Amin!” panggil seseorang dengan suara berat, namun jelas sekali keceriaan di dalamnya. Orang yang dipanggil menoleh. Ialah pemuda yang tadi duduk-duduk santai di bilik bambu. “Hoy! Sini, Mat!” balas Amin sambil meletakkan kedua telapak tangannya di dekat mulut. “Jadi imam, ya!” Mamat menepuk pundak sahabat karibnya itu. “Ah, biar yang lebih fasih yang jadi imam.”Amin tersenyum.“Tidak-tidak,” Mamat menggeleng. “Dua minggu lagi kau menikah. Harus jadi imam.” kata Mamat sambil menyunggingkan senyum. Amin terkekeh. “Loh, apa hubungannya?” “Ya, jelas berhubungan! Seorang suami harus bisa memimpin keluarganya. Berarti harus bisa memipin sholat, termasuk memimpin sholat di mushola. Apalagi kau akan menjadi suami adikku.” Mamat menatap Amin serius. “Baiklah. Tapi nanti traktir aku es cingcau, ya!” Mengedipkan matanya jahil, lalu turun menuju anak sungai. Dingin! Air yang mengalir melewati jari-jari kakinya benar-benar dingin. Juga menyegarkan. Amin mulai membasuh anggota tubuhnya dengan air sungai yang mengalir dingin. Namun entah mengapa, hatinya tidak tenang. Ada sesuatu yang tidak beres. Baru sampai siku ia membasuh tubuhnya, Amin segera berbalik untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Namun yang dilihatnya jauh dari harapan. Pasukan Belanda itu datang! Dor! Sebuah bunyi letusan yang berasal dari senjata laras panjang itu benar-benar memekakan telinga. Membuat burung-burung kecil yang ada di sekitar sana terbang menjauh. Membuat kedua kaki Amin bergetar hebat, lemas. Kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya lagi, sehingga setengah tubuhnya masuk ke sungai, cipratan darah yang menempel di tubuhnya ikut mengalir bersama air sungai. Berlalu menyedihkan. -----------------------------------------------------to be continued---------------------- Label: Cerita Bersambung |