Glaniz's
13 yo. young, but not forever. act,write,jump,sing,dance,and punch. addicted to camera,fashion,and Greyson Chance.
@Glaniz



Skin by
Ayien
Cute favicon byBabydoll
Blog owner: Glaniz!

Baju Koko untuk Kiki
Minggu, 16 September 2012 | 19.32 | 0 comments

Baju Koko untuk Kiki

“Assalamualaikum!” seru seseorang dari balik pintu rumahku. Aku yang sedang serius membaca komik kesukaanku pun terkejut. Dengan sigap aku membukakan pintu untuk orang tersebut. “Walaikumsalam. Eh, Kiki? Cari siapa, ya?” kataku sedikit terkejut namun tetap dengan nada ramah. “Bapak.” jawabnya. “Eh, Mang Ujang,” katanya cepat - cepat. Aku lalu mempersilahkannya masuk dan membawanya ke kebun belakang rumahku, tempat Mang Ujang berada.
Oh, jadi Kiki anaknya Mang Ujang .. Pikirku dalam hati. Kiki adalah adik kelasku di sekolah. Walaupun terbilang kurang mampu, namun ia terkenal cerdas di sekolah. Menurut kabar burung, katanya Kiki dapat masuk sekolahku karena ada salah satu temanku yang membantu membiayainya. Namun, aku baru tahu kalau Kiki adalah anak Mang Ujang. Tukang kebun keliling di komplekku.
“Teh Faraz, Kiki pulang dulu ya, Teh,” pamit Kiki. “Eh, iya Ki,” balasku sambil membukakan pintu untuknya. “Assalamualaikum,” kata Kiki sopan. “Walaikumsalam. Hati - hati ya, Ki!” jawabku cepat. Setelah ku tanya Mang Ujang, ternyata tadi Kiki bermaksud mengajak Mang Ujang untuk sholat Jum’at bersama di masjid. Namun karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, Mang Ujang menolak ajakan tersebut.
Awalnya aku tidak tertarik dengan apa yang diberitahu Mang Ujang. Tapi setelah dipikir – pikir, tadi dia datang ke sini tidak menggunakan baju koko atau yang pantas dikenakan untuk sholat Jum’at. Hanya kaus oblong kotor yang kebesaran. Karena merasa aneh, aku menceritakan hal ini kepada teman – temanku di sekolah keesokan harinya. Tidak kusangka, ternyata mereka tertawa. Padahal aku tidak mengharapkan mereka untuk tertawa. Untuk sementara waktu, ku biarkan saja dulu mereka tertawa.
Bel istirahat berdentang. Aku dan teman - teman dekatku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan daripada harus bermain di lapangan atau sekedar mengobrol di dalam kelas. “Bosan, ah. Lagian kalo cuma ngobrol - ngobrol, nanti malah ngomongin orang. Malah jadi dosa. Kan sayang puasa kita,” tolakku saat teman - teman mengusulkan untuk berdiam di kelas saja.
Di jalan menuju perpustakaan, kami bertemu Kiki. Tak kusangka, Lena, temanku yang paling jahil berkata,“Ih, buat ibadah aja kok bajunya masih jelek! Nanti lebaran dia pake lap pel, lagi!” kata Lena pedas. Teman – temanku yang lain pun ikut tertawa keras mendengarnya. Kiki yang terkejut mendengarnya menekuk mukanya dalam - dalam dan bergegas pergi dari hadapan kami.
Aku sangat terkejut melihat kelakuan teman temanku. Aku kecewa dan marah kepada mereka. Tak kusangka mereka bisa berbicara sekasar itu. Apalagi kepada adik kelas yang seharusnya dicontohkan hal baik. “Kalian kenapa, sih? Kok kasar banget ngomongnya? Kalian gak mikir perasaan Kiki apa?!” bentakku. Lena dan kawan - kawanku yang lain terdiam. Lalu salah satu kawanku, Sisi menjawab, “Loh, kan kamu yang kasih tau sama kami tentang Kiki, Raz! Kalo gitu kamu yang gak mikir perasaan Kiki. Karena kamu yang jelek - jelekin Kiki di depan kami.” jawabnya santai. “Aku gak pernah jelek - jelekin Kiki!” kataku kesal. “Terserah!” balas Sisi lagi. Teman - temanku lalu mulai tertawa lagi.
Aku kesal. Aku lalu berjalan menjauh meninggalkan mereka dengan wajah memerah. Dalam hati aku kesal dan kecewa kepada teman - temanku. Namun disisi lain aku juga menyesal. Mungkin Sisi benar. Aku sudah menjelek - jelekkan Kiki di depan mereka. Sampai bel pulang sekolah berbunyi, aku masih merasa kesal dan enggan berbicara dengan teman -temanku.
Sampai di rumah, aku langsung mencari Mama untuk menceritakan kejadian tadi siang di sekolah dan meminta pendapatnya. Namun ternyata yang aku temui adalah Kiki yang sedang membantu Mang Ujang di halaman belakang rumahku. “Eh, Kiki .. Kiki puasa?” Kataku berusaha mencarikan suasana saat bertemu dengannya. “Ya,” Jawabnya dingin sambil membuang muka. Duh, aku sangat menyesal. Sungguh, sejak awal aku tidak pernah bermaksud menjelek - jelekkan Kiki apalagi di depan teman – temanku.
Sore harinya aku teringat kalau hari ini adalah hari terakhir sekolah karena untuk selanjutnya sekolah akan diliburkan karena sudah mendekati hari lebaran. Dan kalau tidak salah, hari ini sekolah mengadakan tarawih bersama di sekolah mulai dari kelas 7 – 9. Aku langsung mendapat ide untuk meminta maaf kepada Kiki.
Dengan cepat aku berganti pakaian dan langsung meminta izin kepada orang tuaku untuk pergi ke luar sebentar. Cepat – cepat aku menelpon ojeg langgananku dan memintanya mengantarku ke pasar. Aku meminta Pak Maman, tukang ojeg tersebut untuk mempercepat laju motornya. Aku takut toko yang aku tuju sudah tutup. Ternyata aku beruntung, toko yang aku maksud masih merapihkan barang barang jualannya di etalase sebelum tutup. Cepat - cepat aku mencari barang - barang yang kubutuhkan dan membayarnya di kasir.
 Setelah semua barang yang kubutuhkan terkumpul, aku segera kembali pulang dengan senyum mengembang. Semoga Kiki suka dengan semua ini. Aku berharap dalam hati. “Loh, Faraz dari mana saja? Kok lama?” Sambut Mama saat aku baru sampai di rumah. “Dari pasar, Ma. Hehe,” Jawabku sambil menyalami Mama. “Ya udah, sekarang mandi gih. Bentar lagi buka puasa. Kalo udah selesai mandi, bantu Mama di dapur, ya.” Pesan Mama. “Sip, Ma!” Jawabku sambil mengacungkan kedua ibu jariku.
“Allhamdulillah ..” Kataku saat mendengar adzan Maghrib berkumandang dari masjid yang tak jauh dari rumahku. Aku dan keluarga ku segera berbuka dan melaksanakan sholat Maghrib. Setelah sholat Maghrib aku segera membereskan meja makan dan bergegas keluar rumah sambil mebawa bungkusan. “Faraz mau ke mana?” Tanya Ayahku saat melihatku berlari terburu - buru. “Mau ke rumah Mang Ujang, Yah!” Jawabku.
Rumah Mang Ujang tak terlalu jauh dari rumahku. Sebenarnya aku belum pernah ke rumah Mang Ujang. Namun aku tahu patokannya. Dekat toko bahan bangunan di ujung jalan komplekku. Aku berdiri di depan rumah sederhana itu dengan ragu – ragu. Rumah tersebut tidak memakai keramik, hanya semen yang dingin sebagai alas. Temboknya juga tidak menggunakan bata, hanya bilik bambu yang rapuh. Terbayang olehku saat hujan deras tiba, pasti keluarga di dalamnya kedinginan dan khawatir rumah tersebut roboh.
Aku memutuskan untuk segera menyerahkan barang - barang yang ku bawa kepada Kiki. “Assalamualaikum,” Kataku tercekat. “Walaikumsalam,” Balas suara anak laki - laki dengan cepat sambil membukakan pintu reyot rumah tersebut untukku. “Teh Faraz?” Kiki memandangi ku heran. “Kiki,” Aku tersenyum kecut. Aku tak kuasa menahan air mata penyesalanku. Aku segera memeluk Kiki dan berbisik, “Kiki, maafin Teteh ya. Teteh gak bermaksud jelek - jelekkin kamu di depan temen - temen Teteh. Teteh nyesel banget. Kiki mau kan maafin Teteh?”
Sejenak Kiki diam sambil memandangiku. Aku khawatir dia tidak mau memaafkan ku. Namun Kiki malah tersenyum dan menjawab, “Teh Faraz gak ada salah apa – apa kok sama Kiki .. gak usah minta maaf. Lagian kejadian tadi siang Kiki juga tau, temen - temen Teteh juga pasti cuma bercanda,” Ah, senangnya aku mendengar kata - kata Kiki. “Jadi Kiki mau maafin Teteh kan?” Aku mencoba memastikan. Kiki mengangguk sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan senyum yang lebih lebar.
“Eh, Kiki,” Kataku. “Ini, Teteh punya baju koko buat Kiki. Jadi Kiki gak akan diledek lagi kalo sholat Jum’at atau tarawih nanti malam,” Lanjutku sambil menyerahkan bungkusan yang sejak tadi ku genggam. “Teteh serius ini buat Kiki?” Tanyanya sambil memandagiku tak percaya. “Iya, Ki. Masa’ bercanda sih?” Jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku.
 “Makasih banyak ya, Teh. Sebenarnya, Kiki masih punya baju kemeja yang dikasih temen Kiki dua tahun lalu. Masih bagus kok,” Katanya mencoba menolak. “Loh, dua tahun yang lalu? Pasti udah kecil dong, Ki .. udah pake yang ini aja. Teteh udah sengaja beliin buat Kiki masa Kiki gak mau pake, sih?” Bujukku. “Ehm, iya deh.. sekali lagi makasih banyak ya, Teh. Maaf banget Kiki udah ngerepotin Teteh,” Kata Kiki sambil menghapus air mata bahagia yang menetes dari mata kecilnya.

“Iya, Ki. Cepetan gih ganti baju. Nanti telat loh tarawih di sekolahnya,” Kataku mengingatkan. “Eh, iya, ya. Tuggu sebentar ya, Teh” Kiki lalu masuk ke dalam rumahnya dan mengenakan baju koko, sarung, dan kopeah yang ku belikan. “Nah gitu, dong! Kalau pakaian nya rapihkan, keliatannya ganteng,” Pujiku tulus. “Jadi Kiki ganteng pake baju koko, ya?” Tanya Kiki polos. Aku tertawa kecil, lalu menjawab, “Iya, Ki. Ganteng banget malah,” Kami berdua lalu tertawa bersama dan berjalan beriringan menuju sekolah.

Label: ,



Old things | New things