
![]()
@Glaniz
Skin by Ayien Cute favicon byBabydoll Blog owner: Glaniz! ![]()
| Segitiga
Selasa, 27 Desember 2011 | 22.08 | 0 comments
"Braaaak!" Aku membanting pintu lokerku dengan kesal. Masih dengan wajah merah padam, aku berbalik lalu berkata, "Terserah! Gue gak peduli lagi sama lo!" "Nad, Nadia! Kamu dengerin aku dulu, dong. Aku sama Putri gak ada apa-apa. Kamu tau kan, aku sayang sama kamu? Aku sama Putri cuma temen, sayang.." Ucap Ilham sambil menatapku penuh harap. "Temen lo bilang?! Dua kali gue mergokin lo berduaan sama Putri, dan lo bilang kalian cuma temen?!" Emosiku tumpah. "Oke, aku ngaku salah. Tapi please, kasih aku kesempatan satu kali lagi." Ilham berlutut di hadapanku. "Idih, ngapain lo berlutut gitu? Bangun! Oke, tapi kalo kali ini lo ternyata masih mainin gue, kita putus!" Jawabku sambil pergi berlalu meninggalkannya.Aku berjalan cepat menuju kantin, mencari Nada. Aku ingin menceritakan semuanya pada Nada. Bukannya bertemu Nada, aku malah berpapasan dengan Putri. "Hey, Nad!" Sapa Putri cerah sambil tersenyum lebar. Aku menatapnya sinis kemudian kembali meneruskan langkahku menuju kantin. Argh, menyebalkan sekali. Kenapa juga aku harus bertemu dengan Putri? Padahal aku bertengkar dengan Ilham gara-gara dia. Dan dengan polosnya, Putri menyapaku tanpa canggung seolah tak ada masalah. "Nada!" Panggilku saat melihat sosok Nada. Nada meyahut kemudian menghampiriku. "Gue pengen cerita." Kataku sambil menarik tangan Nada. "Ada apa? Galau ya, lo?" Tanya Nada santai. "Jauh dari galau gue malah lagi kesel!" Ujarku dengan nada meninggi. "Tadi pagi gue mergokin Ilham sama Putri berduaan lagi. Dan dengan polosnya, barusan si Putri nyapa gue tanpa rasa bersalah. Jijik gue!" Lanjutku masih emosi. "Nad, kalo kata gue sih daripada lo sakit hati terus sama Ilham, mending putus. Jadinya enak 'kan, lo gak akan tarik urat lagi sama Ilham dan Putri." Usul Nada. "Tapi gue masih sayang sama Ilham, Da. Gue kasih kesempatan dia sekali lagi, dan gue harap dia bakalan berubah." "Ya udah, terserah elo aja. Semoga aja Ilham emang bisa berubah." Aku dan Nada sedang tertawa-tawa menuju kelas ketika menyaksikan hal yang tidak kuinginkan. Putri dan Ilham sedang duduk berdua. LAGI! "Nad, itu Putri sama Ilham 'kan?" Nada mencoba memastikan. "Iya. Lo denger gak tadi mereka bilang apa? Mereka sayang-sayangan! Najis!" Emosiku kembali meluap. Padahal, baru saja tadi aku bisa melupakan kekesalanku pada Ilham dan Putri. Aku pun bergegas menghampiri mereka. "Oh! Ini yang lo sebut kesempatan, ya?!" Semprotku di hadapan keduanya. Terkejut dengan kedatanganku, mereka segera berdiri berjauhan. "Nad, gue bisa jelasin.." Putri berbicara lembut sambil menghampiriku. "Gue gak ngomong sama lo, ya!" Seruku sinis sambil melotot ke arah Putri. "Put, gue gak nyangka ya, elo setega ini. Padahal gue nganggep lo ini sahabat!" Ujarku pedas. "Sayang, aku sama Putri cuma lagi curhat, kok. Kita gak ada apa-apa, sayang.." Ilham beralasan. "Apaan, tadi gue denger kalian sayang-sayangan!" "Kita cuma bercanda, Nad. Udah lo tenang aja, gue gak ada apa-apa kok, sama Ilham." Putri membenarkan alasan Ilham. Aku meninggalkan mereka berdua. Rasanya tak tega adu mulut dengan Putri. Bagaimanapun juga, dia salah satu sahabat terbaikku. Akhirnya aku menyerah dan menganggap masalah ini selesai. Aku harap yang dikatakan Putri benar, kalau mereka hanya sebatas teman. Lagipula, aku masih sayang Ilham. Aku belum siap jika harus mengakhiri hubungan dengannya.
******
"Nadia, ada yang mau gue ceritain sama lo." Bisik Nada saat bertemu denganku di ruang olahraga.
"Oh, ya? Gue juga." Jawabku dengan riang. Hari ini aku senang sekali. Ilham memberiku kejutan sebuah boneka cantik dan cokelat kesukaanku.
"Lo duluan aja." Kata Nada sambil mengajakku duduk.
"Tadi gue dapet boneka sama cokelat dari Ilham. Bonekanya sih ada di kelas. Kalo cokelatnya ini gue bawa. Lo mau?" Ceritaku sambil menyodorkan sebatang cokelat.
"Gak usah, makasih, Nad. Hmm, Nad.. Sebelumnya maaf, ya. Gue gak mau ngerusak kebahagiaan elo."
"Ya? Ada apa?" Aku menatap Nada curiga.
"Tadi gue gak sengaja ngebajak Twitternya Putri. Dan gue liat DM dia sama Ilham. Ini gue punya Print-screen nya." Nada menyodorkan flashdisk birunya kepadaku. Awalnya aku tidak percaya dan menolak membuka file tersebut. Namun karena penasaran, akhirnya kami bersama-sama menuju kelas dan melihat hasil print-screen tersebut di laptopku.
Isinya? Tak bisa ku ceritakan. Namun itu berhasil membuat air mataku menetes. Ilham membicarakan rencana untuk meninggalkanku kemudian berpaling kepada Putri. Ya, ampun. Padahal aku sudah percaya kepada mereka dan tak menaruh curiga lagi. Lalu apa artinya hadiah dari Ilham barusan? Apa itu kenang-kenangan terakhir? Aku tak kuasa menahan lelehan air mataku. Aku kecewa pada mereka berdua. Sementara aku sibuk menangis, Nada sibuk menenangkanku.
Dari DM milik Putri yang ku baca, aku menangkap kalau mereka berdua sudah saling menyukai sejak lama. Namun terhalang olehku. Ah, kenapa tidak terus terang saja? Padahal aku 'kan bisa mengalah demi mereka. Pikirku. Aku memutuskan untuk menemui mereka berdua. Memperbaiki dan meluruskan semuanya. Nada yang menemaniku mencari mereka terheran-heran dengan apa yang aku lakukan. Ah, biarlah. Aku hanya ingin mereka bahagia.
Ah, itu aku melihat Putri dan Ilham di taman sekolah. Kebetulan sekali mereka bersama. "Hey!" Sapaku cerah. Putri dan Ilham terlihat canggung, aku tau mereka akan segera beralasan. "Lagi asik, ya?" Tanyaku tanpa menunggu salamku dijawab. "Eh, eng.. enggak kok.." Ilham tergagap. Aku tersenyum lalu melanjutkan, "Ada yang mau gue omongin sama kalian." Aku mengenggam tangan keduanya, lalu menatap mereka lekat. "Kalian sayang sama gue, 'kan?" Mereka mengangguk. "Kalian juga saling sayang satu sama lain, 'kan?" Tanyaku lagi. Mereka saling pandang lalu kembali menatapku bingung. "Maksudnya, Nad?" Putri memandangku dengan pandangan menyelidik. "Gue tau 'kok, kalian saling sayang. Gue gak mau jadi penghalang di antara kalian. Kalo kalian emang bener-bener serius, jadian aja. Gue rela, kok." Kataku tulus. Sedetik kemudian, aku bisa melihat senyum terkembang di wajah mereka. "Makasih banget, Nad. Maaf kalo selama ini gue nyakitin lo. Maaf juga kalo gue udah ngecewain lo." Ujar Ilham dengan mata yang maih berbinar. "Iya, tenang aja. Gue lebih suka gini. Sama-sama seneng, 'kan?" Kami tertawa dan bergurau bersama. Tapi di balik senyum serta tawaku itu, tak ada yang tau aku menangis sendu... Label: Cerpen Persahabatan, Cinta Monyet |