Glaniz's
13 yo. young, but not forever. act,write,jump,sing,dance,and punch. addicted to camera,fashion,and Greyson Chance.
@Glaniz



Skin by
Ayien
Cute favicon byBabydoll
Blog owner: Glaniz!

Gone
Senin, 26 Desember 2011 | 03.15 | 0 comments
“Rafa!” Alya melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum cerah. Aku balas melambai sambil menunjukkan deretan gigiku yang putih bersih.
“Rafa, coba tebak berapa rata-rata raportku.” Katanya sambil meremas jari-jariku manja.
“Hmm.. berapa?” Aku menyerah.
“9,3! Aku Cuma kalah 0,5 poin dari Daffa. Harusnya aku yang ranking satu!” Ujar Alya ambisius.
“Segitu juga bagus, kok. Alya, walaupun kamu gak ranking satu di kelas, kamu tetap ranking satu di hatiku.” Kataku sambil memandang Alya serius. Alya tertawa lalu mencubit pipiku gemas. “Gombal!” Serunya setelah berhenti tertawa.
“Cie, pacaran mulu!” Cibir Rizki saat melintas di hadapanku dan Alya.
“Widih, yang jomblo envy, nih!” Alya balas mencibir sambil tertawa jahil. Aku hanya ikut mentertawakan Rizki.  Aku dapat melihat ekspresi kesal Rizki terpampang di wajahnya. Rizki berhenti, kemudian duduk di sebelahku.
“Raf, nanti ikut liburan bareng anak-anak RBG, gak?” Tanyanya. Aku, Alya, Rizki, dan sebelas teman kami lainnya memang mempunyai geng bernama RBG.
“Kayaknya nggak. Gue ikut keluarga ke Paris. Mau jenguk omma gue yang lagi sakit,” Jawabku. “Emang RBG mau ke mana?”
“Puncak! Sayang kamu gak ikut. O, ya, salam buat omma kamu, ya. Semoga cepet sembuh.” Timpal Alya. Aku hanya mengangguk sambil menyungingkan senyum.
“Kayaknya gue ngeganggu, deh. Gue duluan, ya!” Ujar Rizki sambil berlalu meninggalkan kami.
Setelah Rizki tak terlihat dari pandanganku dan Alya, ia bertanya, “Jadi, gimana raport kamu say?”
“Masih ranking 8.” Jawabku enteng.
“Loh? Kok gak naik? Kamu ‘kan, udah janji kalo semester ini rankingnya bakal naik, Rafaaa..” Alya menatapku dengan pandangan kecewa.
“Saingannya berat, sayang..” Aku berkilah.
“Tin..! Tin..!” Dari balik pagar sekolah ini aku dapat mendengar klakson mobil yang dibunyikan supirku yang datang menjemputku. Segera, aku menyambar tasku lalu berujar, “Alya, aku duluan, ya. Love you!”
“Love you, too. Hati-hati, Rafa!” Alya berdiri kemudian memandangiku yang berlari menuju mobil CR-V hitam yang menunggu tak jauh dari pagar sekolah.
Sampai di rumah, aku segera mengemasi barang-barang ku seperlunya. Rencananya, aku dan keluargaku akan berlibur selama sembilan hari di Paris. Jadi, aku hanya membawa pakaian dan beberapa barangku seperlunya. Aku terlalu malas untuk bergonta-ganti paket BBM. Jadi aku me-nonaktifkan BBM dan semua aplikasi di HPku untuk sembilan hari ke depan.

Aku memandang sedih omma yang terbaring lemas di kasur. Liburanku di sini jadi tidak tenang, karena  terus menerus memikirkan kesehatan omma. Sudah delapan hari kami di Paris. Besok sore, kami harus pergi ke bandara dan segera kembali ke Indonesia. Namun, sepertinya omma, tante, dan sepupu-sepupuku tidak menginginkan kami segera pulang. Terpaksa, aku dan kakakku menghabiskan sisa liburan kami di sini. Sedangkan orangtua kami kembali ke Indonesia untuk bekerja.
Aku sedang mengantri tiket bus bertingkat untuk mengitari kota ini saat menyadari kalau sudah hampir sepuluh hari aku tidak berkomunikasi dengan Alya. Aku merindukannya, namun rasanya menyenangkan juga liburan hanya ditemani keluarga dan tanpa kalimat-kalimat khawatir darinya. Aku memutuskan untuk tidak menghubunginya sampai kembali ke Indonesia.
Sehari sebelum liburanku habis, barang-barang yang ku bawa sudah terkemas rapih di dalam tas besarku. Hari ini aku dan kakakku akan kembali ke Indonesia. Kami akan berangkat pukul tiga sore waktu sekitar. Sedangkan sekarang baru pukul sepuluh pagi. Bosan, aku melihat-lihat HPku. BlackBerry yang kupunya ini jadi terasa sepi sekali tanpa BBM dan aplikasinya. Aku membuka galeri, lalu melihat-lihat foto-fotoku selama di Paris. Tanpa sengaja, aku menggeser trackpad dan sampailah aku di album yang berisi foto-fotoku dengan Alya. Aku semakin merindukannya. Ah, tak sabar ingin segera bertemu dengannya lagi.

“Hoaaaam!” Aku menguap lebar sambil menggeliatkan tubuhku. Badanku masih pegal setelah perjalanan semalam. Aku mencari HPku kemudian mengaktifkan kembali BBM-nya. Segera, aku mengirimi Alya sebuah message,
‘Honey, aku udah di Indonesia. Baru sampe kemarin malem. Maaf baru bisa kasih kabar sekarang. Kemarin omma ku minta aku lebih lama di sana. Jadi liburanku diperpanjang. Alya, aku kangeeeen banget sama kamu! Sore ini aku ke rumah kamu, ya. Gak sabar pengen ketemu :*’
Lima menit aku menunggu BBM yang ku kirimkan dibalas Alya. Namun, tak ada balasannya. Aneh, biasanya Alya langsung membalas setiap SMS ataupun BBM yang ku kirimkan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mandi sambil menunggu balasan Alya.
Pukul setengah sebelas, aku selesai mandi. Aku mengecek ponselku dengan harapan Alya sudah membalas pesanku. Namun yang ada hanya broadcast message dari orang yang bahkan tidak aku kenal. Ini menyebalkan. Sial, cuma diread, doang! Gumamku kesal.
Pukul empat sore, aku sudah berada di dalam mobil sedan hitamku. Aku bersenandung cerah sambil membayangkan ekspresi Alya melihatku di pintu rumahnya. Hampir tiga minggu aku tidak bertemu dengannya, dan sore ini aku akan kembali melihat senyumnya. Aku benar-benar tidak sabar mendengar suaranya lagi.
Sepuluh menit lagi aku sampai di rumah Alya. Aku menelponnya agar ia bisa menungguku di beranda rumahnya. Sudah tiga kali aku berusaha menghubunginya, namun tak satupun telponku diangkatnya. Aku memilih meneruskan perjalan tanpa ambil pusing. Mungkin Alya lagi siap-siap, pikirku.
“Eh, Rafa. Ada apa?” Alika, kakak Alya menyambutku di depan pintu.
“Alya nya ada?” Tanyaku tanpa basa-basi.
“Alya? Alya baru aja pergi jam tigaan tadi. Dia gak bilang sama kamu?” Alika menaikkan alisnya heran. Aku ikut bingung mendengar penjelasannya.
“Pergi? Sama siapa? Nggak, tuh. Tadi aku telpon gak diangkat.”
“Iya. Sama anak RBG juga, kok. Kalo gak salah sih, Rizki.”
“Hah, Rizki? Ya udah, deh. Aku balik duluan. Makasih, ya,Ka.” Kataku buru-buru sambil berbalik menuju mobilku.
Di mobil, aku masih dilanda kebingungan. Aku mencoba mengirimi Alya BBM, ‘Alya, lagi di mana? Tadi aku ke rumah kamu, kamu gak ada di rumah. Aku kangen sama kamu sayang! :*’ Kali ini aku benar-benar berharap Alya akan membalas BBM ku. Segera, aku membawa mobilku kembali ke rumah.

Aku memandang diriku di cermin. Sebentar saja, aku merapihkan rambutku lalu mengenakan parfum. Setelah selesai, aku segera keluar dari kamar untuk menyantap sarapanku. Sepuluh menit kemudian, aku sudah berada di dalam mobil yang menuju ke sekolahku. Kemarin, Alya seharian gak bales BBM dan angkat telpon gue. Sekarang gue bakal ketemu lagi sama dia. Ah, dia bener-bener buat gue kangen.
Aku sampai di sekolah lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi. Biasanya, aku bisa melihat Alya duduk di depan kelasnya sebelum bel berdentang. Namun pagi ini, aku tidak melihatnya sama sekali. Rasanya aneh. Saat aku hendak menuju kelasnya, aku bertemu Rafi. Salah satu sahabatku yang juga anggota RBG.
“Fi, lo liat Alya?” Tanyaku menghentikan langkahnya.
“Eh, Rafa! Gimana liburan lo di Paris? Hmm, Alya? Kayaknya tadi gue liat dia sama Rizki di kantin.”
“Lumayan. Lo gimana di Puncak? Hah, Alya sama Rizki? Ngapain mereka?”
“Asik! Elo sih, gak ikut. Mereka ‘kan pacaran. Lo gak tau?”
“Pacaran? Mereka? Gue ini masih pacarnya Alya! Gue belum putus sama dia, Fi!” Aku berseru tak percaya.
Rafi mengangkat bahunya, “Setau gue mereka jadian tiga hari lalu. Bukannya lo udah gak ada kontak sama Alya?”
“Gue gak hubungin dia karena emang lagi di Paris! Omma gue minta buat jagain beliau. Gue gak mungkin jagain orang sakit sambil nelponin Alya, kan?”
“Tapi tiga minggu tanpa kabar dari lo, buat Alya merasa kehilangan banget. Dan selama dia kesepian, Rizki selalu ada di samping dia, Fa.”
“Gue sama Alya udah jadian hampir sebelas bulan. Gak mungkin dia bisa pindah ke lain hati cuma dalam waktu tiga minggu!”
“Tapi dalam waktu tiga minggu, Rizki berhasil merebut hati Alya tanpa satupun pesan dari lo yang bisa ngingetin Alya tentang hubungan kalian.”
Aku terpaku tak percaya, “Jadi.. jadi Alya beneran jadian sama Rizki?”
“Iya. Lo sabar, ya.” Ucap Rafi dingin, kemudian meninggalkanku.
Aku terduduk lemas tak percaya. Tiga minggu tanpa komunikasi bisa membunuh kenangan-kenanganku bersamanya yang hampir sebelas bulan? Apa dia tidak bisa menungguku? Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Sesaat, aku menyalahkan Rizki. Beraninya dia mendekati Alya saat aku tak ada disampingnya. Kurang ajar! Kemudian, aku menyalahkan Alya. Bisa-bisanya dia melupakanku dengan begitu mudah. Membuang semua hal-hal yang sudah kami lewati. Tapi kemudian, aku sadar. Semua salahku. Aku terlalu tidak peduli pada Alya. Aku berusaha menenangkan diri dan berharap tidak bersamanya tanpa memperdulikan perasaan Alya.
Tak lama, aku melihat Alya dan Rizki melintas. Berlalu dengan semua kenangan dan penyesalanku...

Label: ,



Old things | New things