
![]()
@Glaniz
Skin by Ayien Cute favicon byBabydoll Blog owner: Glaniz! ![]()
| Gone
Senin, 26 Desember 2011 | 03.15 | 0 comments
“Rafa!”
Alya melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum cerah. Aku balas melambai
sambil menunjukkan deretan gigiku yang putih bersih.
“Rafa,
coba tebak berapa rata-rata raportku.” Katanya sambil meremas jari-jariku
manja.
“Hmm..
berapa?” Aku menyerah.
“9,3!
Aku Cuma kalah 0,5 poin dari Daffa. Harusnya aku yang ranking satu!” Ujar Alya
ambisius.
“Segitu
juga bagus, kok. Alya, walaupun kamu gak ranking satu di kelas, kamu tetap
ranking satu di hatiku.” Kataku sambil memandang Alya serius. Alya tertawa lalu
mencubit pipiku gemas. “Gombal!” Serunya setelah berhenti tertawa.
“Cie,
pacaran mulu!” Cibir Rizki saat melintas di hadapanku dan Alya.
“Widih,
yang jomblo envy, nih!” Alya balas
mencibir sambil tertawa jahil. Aku hanya ikut mentertawakan Rizki. Aku dapat melihat ekspresi kesal Rizki
terpampang di wajahnya. Rizki berhenti, kemudian duduk di sebelahku.
“Raf,
nanti ikut liburan bareng anak-anak RBG, gak?” Tanyanya. Aku, Alya, Rizki, dan
sebelas teman kami lainnya memang mempunyai geng
bernama RBG.
“Kayaknya
nggak. Gue ikut keluarga ke Paris. Mau jenguk omma gue yang lagi sakit,”
Jawabku. “Emang RBG mau ke mana?”
“Puncak!
Sayang kamu gak ikut. O, ya, salam buat omma kamu, ya. Semoga cepet sembuh.”
Timpal Alya. Aku hanya mengangguk sambil menyungingkan senyum.
“Kayaknya
gue ngeganggu, deh. Gue duluan, ya!” Ujar Rizki sambil berlalu meninggalkan
kami.
Setelah
Rizki tak terlihat dari pandanganku dan Alya, ia bertanya, “Jadi, gimana raport
kamu say?”
“Masih
ranking 8.” Jawabku enteng.
“Loh?
Kok gak naik? Kamu ‘kan, udah janji kalo semester ini rankingnya bakal naik,
Rafaaa..” Alya menatapku dengan pandangan kecewa.
“Saingannya
berat, sayang..” Aku berkilah.
“Tin..!
Tin..!” Dari balik pagar sekolah ini aku dapat mendengar klakson mobil yang
dibunyikan supirku yang datang menjemputku. Segera, aku menyambar tasku lalu
berujar, “Alya, aku duluan, ya. Love you!”
“Love
you, too. Hati-hati, Rafa!” Alya berdiri kemudian memandangiku yang berlari
menuju mobil CR-V hitam yang menunggu tak jauh dari pagar sekolah.
Sampai
di rumah, aku segera mengemasi barang-barang ku seperlunya. Rencananya, aku dan
keluargaku akan berlibur selama sembilan hari di Paris. Jadi, aku hanya membawa
pakaian dan beberapa barangku seperlunya. Aku terlalu malas untuk
bergonta-ganti paket BBM. Jadi aku
me-nonaktifkan BBM dan semua aplikasi
di HPku untuk sembilan hari ke depan.
Aku
memandang sedih omma yang terbaring lemas di kasur. Liburanku di sini jadi
tidak tenang, karena terus menerus
memikirkan kesehatan omma. Sudah delapan hari kami di Paris. Besok sore, kami
harus pergi ke bandara dan segera kembali ke Indonesia. Namun, sepertinya omma,
tante, dan sepupu-sepupuku tidak menginginkan kami segera pulang. Terpaksa, aku
dan kakakku menghabiskan sisa liburan kami di sini. Sedangkan orangtua kami
kembali ke Indonesia untuk bekerja.
Aku
sedang mengantri tiket bus bertingkat untuk mengitari kota ini saat menyadari
kalau sudah hampir sepuluh hari aku tidak berkomunikasi dengan Alya. Aku
merindukannya, namun rasanya menyenangkan juga liburan hanya ditemani keluarga
dan tanpa kalimat-kalimat khawatir darinya. Aku memutuskan untuk tidak
menghubunginya sampai kembali ke Indonesia.
Sehari
sebelum liburanku habis, barang-barang yang ku bawa sudah terkemas rapih di
dalam tas besarku. Hari ini aku dan kakakku akan kembali ke Indonesia. Kami
akan berangkat pukul tiga sore waktu sekitar. Sedangkan sekarang baru pukul
sepuluh pagi. Bosan, aku melihat-lihat HPku. BlackBerry yang kupunya ini jadi
terasa sepi sekali tanpa BBM dan
aplikasinya. Aku membuka galeri, lalu melihat-lihat foto-fotoku selama di
Paris. Tanpa sengaja, aku menggeser trackpad
dan sampailah aku di album yang berisi foto-fotoku dengan Alya. Aku semakin
merindukannya. Ah, tak sabar ingin segera bertemu dengannya lagi.
“Hoaaaam!”
Aku menguap lebar sambil menggeliatkan tubuhku. Badanku masih pegal setelah
perjalanan semalam. Aku mencari HPku kemudian mengaktifkan kembali BBM-nya. Segera, aku mengirimi Alya
sebuah message,
‘Honey, aku udah di Indonesia. Baru
sampe kemarin malem. Maaf baru bisa kasih kabar sekarang. Kemarin omma ku minta
aku lebih lama di sana. Jadi liburanku diperpanjang. Alya, aku kangeeeen banget
sama kamu! Sore ini aku ke rumah kamu, ya. Gak sabar pengen ketemu :*’
Lima
menit aku menunggu BBM yang ku
kirimkan dibalas Alya. Namun, tak ada balasannya. Aneh, biasanya Alya langsung
membalas setiap SMS ataupun BBM yang
ku kirimkan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mandi sambil menunggu balasan Alya.
Pukul
setengah sebelas, aku selesai mandi. Aku mengecek ponselku dengan harapan Alya
sudah membalas pesanku. Namun yang ada hanya broadcast message dari orang yang bahkan tidak aku kenal. Ini
menyebalkan. Sial, cuma diread, doang! Gumamku kesal.
Pukul
empat sore, aku sudah berada di dalam mobil sedan hitamku. Aku bersenandung
cerah sambil membayangkan ekspresi Alya melihatku di pintu rumahnya. Hampir
tiga minggu aku tidak bertemu dengannya, dan sore ini aku akan kembali melihat
senyumnya. Aku benar-benar tidak sabar mendengar suaranya lagi.
Sepuluh
menit lagi aku sampai di rumah Alya. Aku menelponnya agar ia bisa menungguku di
beranda rumahnya. Sudah tiga kali aku berusaha menghubunginya, namun tak
satupun telponku diangkatnya. Aku memilih meneruskan perjalan tanpa ambil
pusing. Mungkin Alya lagi siap-siap, pikirku.
“Eh,
Rafa. Ada apa?” Alika, kakak Alya menyambutku di depan pintu.
“Alya
nya ada?” Tanyaku tanpa basa-basi.
“Alya?
Alya baru aja pergi jam tigaan tadi. Dia gak bilang sama kamu?” Alika menaikkan
alisnya heran. Aku ikut bingung mendengar penjelasannya.
“Pergi?
Sama siapa? Nggak, tuh. Tadi aku telpon gak diangkat.”
“Iya.
Sama anak RBG juga, kok. Kalo gak salah sih, Rizki.”
“Hah,
Rizki? Ya udah, deh. Aku balik duluan. Makasih, ya,Ka.” Kataku buru-buru sambil
berbalik menuju mobilku.
Di
mobil, aku masih dilanda kebingungan. Aku mencoba mengirimi Alya BBM, ‘Alya, lagi di mana? Tadi aku ke rumah
kamu, kamu gak ada di rumah. Aku kangen sama kamu sayang! :*’ Kali ini aku
benar-benar berharap Alya akan membalas BBM
ku. Segera, aku membawa mobilku kembali ke rumah.
Aku
memandang diriku di cermin. Sebentar saja, aku merapihkan rambutku lalu
mengenakan parfum. Setelah selesai, aku segera keluar dari kamar untuk
menyantap sarapanku. Sepuluh menit kemudian, aku sudah berada di dalam mobil
yang menuju ke sekolahku. Kemarin, Alya
seharian gak bales BBM dan angkat telpon gue. Sekarang gue bakal ketemu lagi
sama dia. Ah, dia bener-bener buat gue kangen.
Aku
sampai di sekolah lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi. Biasanya, aku bisa
melihat Alya duduk di depan kelasnya sebelum bel berdentang. Namun pagi ini,
aku tidak melihatnya sama sekali. Rasanya aneh. Saat aku hendak menuju
kelasnya, aku bertemu Rafi. Salah satu sahabatku yang juga anggota RBG.
“Fi,
lo liat Alya?” Tanyaku menghentikan langkahnya.
“Eh,
Rafa! Gimana liburan lo di Paris? Hmm, Alya? Kayaknya tadi gue liat dia sama
Rizki di kantin.”
“Lumayan.
Lo gimana di Puncak? Hah, Alya sama Rizki? Ngapain mereka?”
“Asik!
Elo sih, gak ikut. Mereka ‘kan pacaran. Lo gak tau?”
“Pacaran?
Mereka? Gue ini masih pacarnya Alya! Gue belum putus sama dia, Fi!” Aku berseru
tak percaya.
Rafi
mengangkat bahunya, “Setau gue mereka jadian tiga hari lalu. Bukannya lo udah
gak ada kontak sama Alya?”
“Gue
gak hubungin dia karena emang lagi di Paris! Omma gue minta buat jagain beliau.
Gue gak mungkin jagain orang sakit sambil nelponin Alya, kan?”
“Tapi
tiga minggu tanpa kabar dari lo, buat Alya merasa kehilangan banget. Dan selama
dia kesepian, Rizki selalu ada di samping dia, Fa.”
“Gue
sama Alya udah jadian hampir sebelas bulan. Gak mungkin dia bisa pindah ke lain
hati cuma dalam waktu tiga minggu!”
“Tapi
dalam waktu tiga minggu, Rizki berhasil merebut hati Alya tanpa satupun pesan
dari lo yang bisa ngingetin Alya tentang hubungan kalian.”
Aku
terpaku tak percaya, “Jadi.. jadi Alya beneran jadian sama Rizki?”
“Iya.
Lo sabar, ya.” Ucap Rafi dingin, kemudian meninggalkanku.
Aku
terduduk lemas tak percaya. Tiga minggu tanpa komunikasi bisa membunuh
kenangan-kenanganku bersamanya yang hampir sebelas bulan? Apa dia tidak bisa
menungguku? Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Sesaat, aku menyalahkan Rizki.
Beraninya dia mendekati Alya saat aku tak ada disampingnya. Kurang ajar!
Kemudian, aku menyalahkan Alya. Bisa-bisanya dia melupakanku dengan begitu
mudah. Membuang semua hal-hal yang sudah kami lewati. Tapi kemudian, aku sadar.
Semua salahku. Aku terlalu tidak peduli pada Alya. Aku berusaha menenangkan
diri dan berharap tidak bersamanya tanpa memperdulikan perasaan Alya.
Tak
lama, aku melihat Alya dan Rizki melintas. Berlalu dengan semua kenangan dan
penyesalanku... Label: Cerpen Persahabatan, Cinta Monyet |