
![]()
@Glaniz
Skin by Ayien Cute favicon byBabydoll Blog owner: Glaniz! ![]()
| Bukan Cuma Materi
Senin, 19 Desember 2011 | 05.19 | 0 comments
“Pagi, sayang .. Sudah siap?” Sapa mamaku di meja makan.
“Siap dong, Ma!” Balasku. “Ma, sekolah nya asyik ‘kan?” Aku mencoba memastikan kembali. “Pasti, Zee. Superior Labs School itu sekolah terbaik di Busy Town, sayang,” Jelas mama. “Oke, deh. Aku harap mama gak bohong,” Kataku sambil mengigit roti isi daging yang mama buatkan.
Pukul setengah tujuh pagi, aku sampai di Superior Labs School. Aku lalu mencium tangan mama dan turun dari mobil. “Hati hati, sayang!” Pesan Mama sambil melambaikan tangannya. Aku menyusuri lantai dasar sekolah ini, mencari – cari kelas 7B. ini hari pertama kudi Semester 2 di Superior Labs School. Ya, aku memang pindahan. Sebelumnya aku tinggal di Thorough Town. Namun karena ayahku dipindah tugaskan, kami sekeluarga pindah ke Busy Town.
Hari pertama ku di Superior Labs School cukup menyenangkan. Seperti biasa, aku di suruh memperkenalkan diriku di depan kelas dan menempati kursi yang kosong. Teman sebangku ku saat ini adalah Anetta. Gadis periang yang menarik. Sepertinya dia bias menjadi tempatku berbagi cerita.
“Hey, Zee!” Sapa beberapa anak perempuan yang kurasa sekelas denganku.
“Hey Crysta, Zenda, dan .. Kyran,” balasku. Aku tahu nama mereka dari papan nama yang mereka kenakan. “Ku dengar kau tinggal di Luxurious Place?” Tanya Crysta. “Iya, memangnya kenapa?” Aku balik bertanya. “Blok apa?” Tanya Crysta lagi. “Blok G. Ada apa?”Aku makin penasaran. “Hmp, tidak. Itu perumahan elit, dan kupikir kamu pantas menjadi teman kami,” jelas Zenda. “Oh,” Aku membulatkan bibirku. “Eh, pulang bareng yuk!” ajak Kyran. “Ya! Bagaimana kalau kamu traktir kami dulu di Luxurious Café?” Bujuk Crysta. “Emm, bisa saja sih!” Jawabku.
Hari – hari ku selama di Superior Labs School berjalan biasa-biasa saja. Aku semakin dekat dengan Crysta, Zenda, dan Kyran.
“Zee, nongkrong di Busy Mall, yuk!” Ajak Kyran. “Nggak, ah. Aku ada janji sama Anetta,” Tolak ku. “Anetta? Udah deh, lupain aja! Dia tuh miskin. Gak pantes gaul sama kita!” Kata Crysta ketus. “Hah? Maksud kalian apa?” Tanya ku bingung. “Zezee! Anetta itu miskin, dia Cuma beruntung dapet beasiswa di sini. Dia gak pantes bergaul sama kamu yang berduit!” Tukas Crysta. “Intinya, Zee, kamu pantesnya gaul sama kita,” Jelas Zenda. Aku semakin bingung. “Jadi, selama ini kalian hanya menfaatkan ku?!” Tanya ku syok. “Ya! Kamu kaya, pintar, eksis, dan di sukai banyak teman. Bodoh jika kami tak menfaatkan mu!” Jawab Crysta dengan suara meninggi. Aku kecewa, sedih, dan marah.
“Tapi kupikir kita ini sahabat?” Kata ku dengan suara bergetar. Mencoba manutupi segala rasa yang berkecamuk di hatiku.
“Sahabat? Di sini ga ada yang namanya sahabat, semua butuh ini!” Kata Kyran sambil menggerakkan ibu jari dan telunjuk nya.
“Pengkhianat! Aku kira kalian semua tulus mau bersahabat denganku, ternyata karna ada mau nya!” Kata ku sambil melemparkan kalung persahabatan yang Zenda berikan. Aku berlari meninggalkan mereka sambil menghapus air mataku. Aku begitu kecewa. Mereka, yang ku anggap sahabat ternyata hanya memanfaatkan ku. Aku kalut dan terus berlari. Aku tak mau ada orang lain yang melihatku menangis.
“Aww!” rintih seseorang yang ku tabrak tadi. Aku menoleh kebelakang, ternyata Anetta. Dia terjatuh dan terinjak kaki ku saat aku menabraknya tadi.
“Maaf, Nett .. aku gak liat kamu,” Sesal ku sambil membantu Anetta berdiri.
“No prob, cantik,” Kata Anetta sambil mengedipkan matanya dan tersenyum. Aku mencoba membalas senyum nya agar tak ketahuan menangis.
“Eh? Mata mu kenapa, Zee? Kok bengkak gitu?” Tanya Anetta sambil memperhatikan wajahku.
“Ah, enggak kok, Nett ..” Aku memalingkan wajahku darinya.
“Ayo sini,” Katanya sambil mengajakku duduk. “Ceritakan apa masalahmu, Zee. Aku siap mendengarkan,” Lanjut Anetta dengan wajah serius. Aku lalu duduk di sebelahnya dan menceritakan semua masalah dan perbicangan ku tadi dengan Crysta, Zenda, dan Kyran.
“Gitu ceritanya, Nett. Aku gak percaya dan kecewa banget sama mereka,” Kata ku di akhir cerita.
“Hmm, teman kaya’ gitu jangan kamu musuhin, mending di baikin. Biar mereka nyadar,” Anetta menaggapi. “Lagi pula, aku siap menjadi sahabat mu dan tempat mu berbagi cerita,” lanjut Anetta sambil tersenyum.
“Sungguh?” Aku menaikkan alisku. Anetta mengangguk dan terseyum. Aku memeluknya bahagia dan berbisik, “Terimakasih, Anetta ..”Label: Cerpen Persahabatan |