Glaniz's
13 yo. young, but not forever. act,write,jump,sing,dance,and punch. addicted to camera,fashion,and Greyson Chance.
@Glaniz



Skin by
Ayien
Cute favicon byBabydoll
Blog owner: Glaniz!

Keribo
Senin, 28 November 2011 | 05.49 | 0 comments
“Keribo, keribo!” Ujar Sasha sambil berlari mengelilingiku. “Huh!” Aku hanya mendengus sebal sambil berlalu pergi. Aku tahu persis, ia bermaksud meledek rambutku yang ikal. Aku berjalan keluar kelas dengan wajah cemberut. “Pagi, Rani.” Sapa Darra yang baru datang. “Hey.” Aku balas menyapanya sambil tersenyum kecut. “Loh ada apa? Kok cemberut? Gara-gara Sasha lagi, ya?” Terka Darra. Aku hanya mengangguk tak senang. “Ya udah, gak usah dipikirin. Sekarang masuk aja, yuk. Sebentar lagi pelajaran di mulai.” Ajak Darra sambil menggandeng tanganku. Aku hanya menurut dan mengikutinya masuk kelas kembali.

Waktu istirahat tiba. Aku dan Darra segera berlari menuju kantin dengan riang. Karena mengobrol dan bercanda dengan Darra, kekesalanku pada Sasha tadi pagi sudah mulai berkurang.
“Ah!” Keluhku saat aku merasa ada seseuatu yang menempel di rambutku. Aku buru-buru meraba benda itu dan mencoba melepaskannya. Lengket. Ya, ampun! Ternyata itu permen karet! Aku segera menoleh ke belakang dan mencari siapa yang telah melemparkan permen karet bekas ini ke rambutku. Ternyata Sasha yang berdiri di belakang sana sambil menyeringai. Uh, dia lagi!

“Ada apa, Ran?” Tanya Darra yang melihatku bersungut-sungut. “Ini.” Jawabku lirih sambil menunjuk ke arah segumpal permen karet bekas yang menempel di rambut ikalku. “Ya, ampun!” Ujar Darra panik sambil mencoba melepaskan permen karet itu dari rambutku.

“Aku bingung, kenapa Sasha selalu meledekku? Apa lagi rambutku ini. Padahal seingatku, aku gak punya salah sama dia.” Kataku hampir menangis.
“Mungkin Sasha Cuma iri sama kamu, Ran.” Darra menanggapi.
“Tapi anehnya,” aku tak mau kalah. “Dia kan pake kerudung. Kok bisa-bisanya, sih, sejahil itu?”
“Mungkin sebenernya dia pengen jadi temen kamu. Tapi dia gak tau caranya. Jadi dia narik perhatian kamu dengan cara ini. Ya udah, deh. Kita ke dapur kantin, yuk. Minta sedikit minyak buat ngelepasin permen karetnya.” Ujar Darra bijak.

Seminggu kemudian adalah jadwal kelasku untuk berenang. Baru kali ini aku melihat Sasha di kolam berenang. Karena memang baru tahun ini kami satu kelas. Dan coba tebak, Sasha tidak memakai kerudung. Rambutnya dibiarkan tergerai. Dan yang lebih mengejutkan, rambutnya ikal! Sama sepertiku. Bisa dibilang lebih kusut malah.

Aku dan Darra menghampiri Sasha sambil menahan tawa. Di satu sisi, aku ingin marah padanya, karena dia sering meledek rambut ikalku, sedangkan rambutnya sendiri ikal. Tapi di sisi lain aku ingin tertawa melihatnya tanpa kerudung. Wajahnya hampir tidak terlihat karena rambut ikalnya yang kusut dan mengembang. Sasha segera berpura-pura tidak melihat kami ketika ia menyadari aku dan Darra sedang menuju ke arahnya.

“Kau ikal.” Kataku saat kami sudah saling berhadapan. Sasha menatapku lekat. Aku tahu, ia sangat bingung harus mengatakan apa. “Memang,” jawabnya. “ada masalah, hah?” “Kalau rambutmu sendiri ikal, kenapa kamu sering meledek Rani? Kamu pasti tahu kan rasanya jika rambutmu diolok-olok?” Darra bertanya. Kali ini Sasha menundukkan wajahnya. “Aku iri. Aku iri dengan rambut Rani. Walaupun rambutnya ikal, tapi tetap terlihat rapih dan lembut. Aku ingin seperti dia. Karena itu lah aku sering meledek Rani.” Sasha mengakui.

Aku tersenyum mendengarnya. Ah, ternyata memang betul perkataan Darra. “Kalau begitu kamu pasti menyesalkan? Sekarang, ayo minta maaf pada Rani. Aku yakin, ia dengan senang hati akan memaafkanmu.” Ujar Darra. Sasha mendongakkan kepalanya dan menatap ku dengan tatapan menyesal. “Rani, maafkan aku ya. Aku benar-benar tidak bermaksud mempermalukanmu. Aku hanya ingin sepertimu.” Ucap Sasha tulus. Senyumku semakin mengembang mendengarnya. “Ah, tentu saja. Aku sudah memaafkanmu, kok. Asal kamu janji, saja. Tidak akan mengulangi perbuatanmu minggu lalu itu.” “Aku janji!” Sasha berkata dengan nada cerah. “Seorang Sasha akan berusaha memenuhi janjinya.” Lanjutnya sambil membentuk telunjuk dan jari tengahnya menjadi angka dua. Aku, Darra, dan Sasha tertawa bersama mendengarnya. Ah, benar-benar menyenanangkan jika kita bisa saling memahami dan memaafkan.

Label:



Old things | New things